JAKARTA – Dinamika perekonomian global yang fluktuatif serta pergerakan harga komoditas strategis mulai memberikan pengaruh nyata terhadap postur pendapatan negara pada tahun fiskal berjalan. Pemerintah memproyeksikan total akumulasi penerimaan bea dan cukai hingga akhir tahun 2026 berpotensi meleset dari target awal atau mengalami kondisi *shortfall* sekitar Rp15,4 triliun.
Kondisi selisih kurang ini diperkirakan terjadi lantaran total realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai hingga penutupan tahun anggaran diproyeksikan hanya akan menyentuh angka Rp320,6 triliun. Nominal tersebut setara dengan 95,4% dari target pagu APBN 2026 yang sebelumnya telah ditetapkan sebesar Rp336 triliun.
Rapor Tengah Tahun Kepabeanan dan Cukai Nasional
Meskipun dibayangi potensi pelebaran target di kuartal akhir, performa pengumpulan kas negara secara tahunan sebenarnya masih memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini ditegaskan langsung oleh otoritas keuangan dalam pertemuan resmi bersama jajaran legislatif.
“[Outlook penerimaan] kepabeanan dan cukai Rp320,6 triliun atau tumbuh 6,8% year on year,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR, dikutip pada Kamis (9/7/2026).
Menilik data rekam jejak pada paruh pertama, realisasi penerimaan bea dan cukai sepanjang semester I/2026 tercatat telah mengumpulkan dana sebesar Rp152,02 triliun. Hasil perolehan tengah tahun ini mencerminkan pemenuhan sebesar 45,2% dari total target tahunan yang dipatok senilai Rp336 triliun.
Purbaya mencatat bahwa setoran bruto kepabeanan dan cukai selama enam bulan pertama tahun ini berhasil tumbuh sebesar 3,4%. Pertumbuhan berkala pada periode awal ini utamanya ditopang oleh kokohnya laju penyerapan setoran cukai ke dalam kas negara.
Rincian Kinerja Tiga Komponen Utama Perpajakan Eksternal
Secara lebih mendalam, arus masuk penerimaan bea dan cukai ini bertumpu pada tiga komponen utama perpajakan eksternal. Komponen tersebut meliputi sektor cukai murni, bea masuk impor, serta pungutan bea keluar ekspor.
Pada komponen pertama, realisasi penerimaan cukai berhasil menyentuh nominal Rp109,4 triliun sepanjang semester I/2026. Angka ini mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,6% yang didorong secara konsisten oleh peningkatan volume produksi rokok (hasil tembakau) serta komoditas minuman beralkohol di dalam negeri.
Selanjutnya, komponen bea masuk impor menyumbang realisasi senilai Rp26,3 triliun dengan pertumbuhan performa yang impresif mencapai 11,3%. Kenaikan bea masuk ini berjalan beriringan dengan melonjaknya aktivitas impor bahan baku serta bahan penolong yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda industri manufaktur domestik.
Sementara itu, sektor bea keluar ekspor membukukan setoran sebesar Rp16,17 triliun, atau melonjak tumbuh hingga 11,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Melejitnya performa bea keluar ini mendapatkan berkah langsung dari tren penguatan harga minyak kelapa sawit mentah (*crude palm oil*/CPO) di pasar komoditas global.
Sebagai informasi tambahan yang perlu diperhatikan, potensi melesetnya target anggaran tahun ini tidak hanya mengintai sektor kepabeanan. Pemerintah juga memproyeksikan realisasi penerimaan pajak nasional pada tahun 2026 akan berakhir lebih rendah daripada pagu reguler yang telah diamanatkan.
Purbaya memperkirakan selisih kurang (*shortfall*) pada sektor penerimaan pajak tahun ini akan menyentuh kisaran Rp46,9 triliun. Hal itu terjadi karena akumulasi penerimaan pajak hingga Desember diperkirakan hanya mampu maksimal di angka Rp2.310,8 triliun, atau setara dengan 98% dari keseluruhan total target APBN 2026 yang senilai Rp2.357,7 triliun.

