WINA – Pemerintah Austria mengambil langkah berani untuk meringankan beban biaya hidup warganya. Mulai Juli 2026, tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk kelompok makanan pokok tertentu akan dipangkas secara signifikan, dari yang semula 10% menjadi di bawah 5%.
Kanselir Austria, Christian Stocker, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar insentif fiskal biasa, melainkan strategi utama dalam mengendalikan laju inflasi yang mencekik. Dengan memangkas separuh beban pajak konsumsi pada pangan, pemerintah berharap arus kas rumah tangga dapat lebih longgar.
“Kami akan mendukung masyarakat dengan mengurangi PPN pada sejumlah barang tertentu hingga setengahnya menjadi kurang dari 5%, mulai Juli tahun ini.”
— Christian Stocker, Kanselir Austria
Kebijakan domestik ini juga dirancang sebagai penyeimbang (stabilisator) harga di tengah dinamika kebijakan perdagangan Uni Eropa. Sebagai konteks, negara-negara anggota Uni Eropa telah menyepakati pengenaan bea masuk sebesar EUR3 atas impor barang kiriman dari negara ketiga (seperti China) yang bernilai di bawah EUR150, efektif mulai Juli 2026.
Terkait pendanaan, pemerintah Austria memang tidak merinci berapa potensi pendapatan negara yang hilang akibat diskon PPN ini. Namun, Stocker memastikan bahwa “lubang” penerimaan tersebut akan ditutup melalui optimalisasi pungutan atas limbah plastik yang tidak dapat didaur ulang.
Pengawasan Ketat: Penurunan Harga Wajib Sampai ke Konsumen
Salah satu kekhawatiran terbesar dalam kebijakan pemotongan pajak konsumsi adalah potensi “dimakan” oleh peretail alias harga tidak turun di tingkat konsumen. Mengantisipasi hal ini, Otoritas Persaingan Federal Austria telah ditugaskan khusus untuk mengawasi kepatuhan pengusaha ritel.
Mandat Keras: “Kami memastikan harga akan turun di tempat orang berbelanja setiap hari. Ini bukan pilihan, melainkan kewajiban.”
Asosiasi Perdagangan Austria menyambut positif langkah ini. Direktur Pelaksana Asosiasi, Rainer Will, berjanji anggotanya akan patuh meneruskan manfaat pemotongan pajak ini kepada konsumen demi menguatkan daya beli. Namun, ia juga melontarkan satu harapan krusial: agar kebijakan ini tidak bersifat sementara.
“Yang terpenting bagi kami adalah pengurangan pajak ini benar-benar permanen dan bukan hanya sementara,” tegas Rainer Will.















