JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memproyeksikan total kebutuhan investasi 2027 di Indonesia diperkirakan bakal menembus angka fantastis hingga Rp8.705 triliun, Selasa (11/8/2026).
Juda menyampaikan bahwa besaran nilai investasi tersebut sangat dibutuhkan guna membiayai beragam agenda pembangunan strategis di dalam negeri. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pendanaan proyek pembangunan nasional tidak dapat hanya bertumpu pada kas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Satu hal yang kita sadari bersama, APBN saja tidak pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan kita. Kebutuhan infrastruktur, energi, pendidikan yang sekarang digalakkan, peningkatan kualitas SDM hingga hilirisasi membutuhkan skala pembiayaan yang jauh melampaui kemampuan fiskal kita,” ujar Wakil Menteri Keuangan Juda Agung.
Porsi Pembiayaan APBN, BUMN, dan Dominasi Sektor Swasta
Menurut pemaparan Wamenkeu, dari akumulasi proyeksi kebutuhan investasi senilai Rp8.705 triliun tersebut, alokasi APBN hanya mampu menjangkau pembiayaan sekitar Rp459 triliun. Sementara itu, kontribusi pembiayaan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diproyeksikan berada di kisaran Rp330 triliun.
Dengan keterbatasan kapasitas fiskal negara, sektor swasta diharapkan memegang peranan dominan dengan menopang pembiayaan sekitar Rp7.973 triliun atau setara 91% dari total kebutuhan investasi nasional pada 2027 mendatang.
“Dalam APBN 2027, kebutuhan investasi Indonesia diperkirakan mencapai Rp8.705 triliun. APBN hanya mampu menjangkau Rp459 triliun,” tutur Juda.
Pasar Modal sebagai Jembatan Pembiayaan dan Katalis Ekonomi
Guna memenuhi porsi pendanaan swasta yang masif tersebut, sumber permodalan dapat dihimpun melalui berbagai instrumen pasar modal, seperti perdagangan saham dan obligasi di bursa efek.
Juda menilai pasar modal memiliki posisi yang sangat strategis sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan ekspansi korporasi dengan ketersediaan likuiditas dana masyarakat.
Oleh sebab itu, pemerintah bersama regulator terkait berkomitmen terus memperdalam pasar modal agar semakin likuid, mudah diakses, serta mampu menampung transaksi bernilai besar dengan tingkat integritas yang tinggi.
Juda menegaskan bahwa kredibilitas pasar modal menjadi kunci utama memupuk kepercayaan investor domestik maupun global guna mengawal target pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
“Pasar modal hadir sebagai katalis pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kita harus mewujudkan pasar modal Indonesia yang dalam, likuid dan tentu saja terpercaya dan kredibel, sehingga dapat berperan optimal dalam memfasilitasi investasi dan mendukung target-target pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” pungkas Juda.

