JAKARTA – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) semakin agresif dalam mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk merambah pasar internasional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pendampingan intensif di berbagai daerah guna memastikan produk lokal memiliki daya saing ekspor.
Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan DJBC, Budi Prasetiyo, menekankan bahwa asistensi langsung adalah kunci untuk menjembatani kesenjangan informasi. Banyak pelaku UMKM memiliki produk potensial, namun kerap terhalang oleh minimnya pemahaman teknis mengenai prosedur kepabeanan.
“Langkah ini sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi daerah berbasis produk lokal. Asistensi ini menumbuhkan kepercayaan pelaku usaha untuk memasok produknya ke pasar global.”
— Budi Prasetiyo, Kasubdit Humas dan Penyuluhan DJBC
Dari Batik Bekasi hingga Lidi Nipah Jambi
Salah satu instrumen andalan DJBC dalam program ini adalah Customs Visit Customer (CVC). Melalui program ini, petugas bea cukai “jemput bola” mendatangi lokasi usaha untuk memberikan solusi taktis.
Sebagai contoh konkret, DJBC Cikarang memberikan pendampingan khusus kepada UMKM Syarisah Batik di Kabupaten Bekasi. Pelaku usaha yang unik ini sukses bertransformasi dari sekadar produsen bolu batik pada 2017 menjadi pengrajin batik tulis bercorak khas Bekasi pada 2022.
Berkat sinergi pembinaan dari Dinas Koperasi setempat dan edukasi fasilitas kepabeanan dari Bea Cukai, Syarisah Batik kini mulai melirik peluang ekspansi yang lebih luas, termasuk pemanfaatan platform digital untuk ekspor.
Kisah serupa juga terjadi di Sumatera. DJBC Jambi baru-baru ini menyambangi PT Agro Lestari Jabung Indoglobal, sebuah entitas bisnis di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang fokus pada ekspor lidi nipah.
Diskusi mendalam dilakukan mulai dari kelengkapan dokumen, prosedur bisnis, hingga bedah regulasi untuk memastikan produk unggulan daerah tersebut bisa melenggang mulus menembus pasar mancanegara tanpa kendala administratif.
Target Besar: Dengan asistensi ini, produk lokal diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan memperkuat kontribusi Indonesia di pasar global.
Budi menegaskan bahwa rangkaian kegiatan ini bertujuan menciptakan ekosistem usaha yang melek regulasi. Dengan literasi ekspor yang baik, hambatan-hambatan psikologis dan teknis yang selama ini menghantui UMKM dapat dikikis.















