JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) harus menghimpun penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai secara maksimal. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat posisi fiskal pada 2026, di tengah tekanan defisit dan kebutuhan belanja negara yang terus meningkat.
“Saya mau seluruh potensi cukai yang ada dikumpulkan secara maksimal, bukan optimal. Kalau optimal itu secukupnya saja, saya mau yang sebanyak dan seluas mungkin.”
— Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan
Purbaya mengingatkan ruang fiskal pemerintah sangat terbatas dan harus dikelola secara hati-hati serta tepat sasaran. Kesalahan pengambilan kebijakan berisiko menimbulkan dampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan keberlanjutan program prioritas pemerintah.
Defisit 2025 Jadi Alarm Keras
Kondisi fiskal pada akhir 2025 menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Pada tahun tersebut, penerimaan pajak serta kepabeanan dan cukai tercatat berada di bawah target APBN, sementara belanja negara harus ditingkatkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Akibatnya, defisit anggaran melonjak hingga 2,92% dari produk domestik bruto (PDB), atau nyaris menyentuh batas maksimal 3% sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Tekanan Fiskal: Defisit anggaran 2025 nyaris menembus batas 3% PDB akibat penerimaan di bawah target dan belanja yang harus diperluas.
Purbaya mengakui situasi tersebut membuat jajaran pimpinan Kementerian Keuangan bekerja di bawah tekanan tinggi. Namun, kondisi ini juga menjadi pengingat pentingnya memperkuat basis penerimaan negara secara berkelanjutan.
Dorong DJBC Kerja Lebih Agresif
Untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, Purbaya menilai pemerintah membutuhkan setoran perpajakan yang solid, termasuk dari sektor bea dan cukai. Oleh sebab itu, ia meminta para pejabat DJBC yang baru dilantik agar bekerja lebih agresif dan tidak menyisakan potensi penerimaan yang terlewat.
Menurutnya, belanja fiskal yang lebih ekspansif hanya bisa dilakukan jika ditopang oleh penerimaan negara yang kuat. Dengan demikian, peran DJBC menjadi semakin strategis dalam menjaga kesinambungan fiskal dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.














