JAKARTA – Pemerintah mencatat kinerja arus barang di pelabuhan sepanjang 2025 semakin efisien. Waktu bongkar muat atau dwelling time rata-rata berada di angka 3,02 hari, membaik dibanding 2024 yang masih 3,52 hari. Perbaikan ini disebut sejalan dengan penguatan fasilitasi perdagangan, termasuk percepatan proses layanan kepabeanan.
“Peningkatan fasilitasi perdagangan antara lain ditunjukkan oleh perbaikan dwelling time dan customs clearance.”
— Kementerian Keuangan
Secara sederhana, dwelling time menggambarkan lamanya peti kemas berada di kawasan pelabuhan sejak proses penimbunan hingga keluar dari area pelabuhan. Indikator ini menjadi salah satu “termometer” kelancaran logistik karena berdampak langsung pada biaya, kecepatan distribusi, serta daya saing perdagangan.
Data dwelling time dihimpun dari sejumlah pelabuhan utama di Indonesia, antara lain Pelabuhan Tanjung Priok, Belawan, Makassar, Tanjung Emas, serta Tanjung Perak. Pemerintah menilai perbaikan di simpul-simpul logistik strategis ini ikut mendukung arus barang ekspor-impor yang lebih lancar.
Customs Clearance Makin Cepat
Selain dwelling time, indikator lain yang ikut membaik adalah waktu penyelesaian proses kepabeanan (customs clearance). Pada 2025, rata-rata customs clearance dipercepat menjadi 0,42 hari. Sebagai pembanding, pada 2024 angka ini masih berada di 0,49 hari.
Percepatan layanan kepabeanan penting karena menyangkut proses yang langsung memengaruhi kapan barang dapat segera keluar dari pelabuhan dan masuk ke rantai pasok. Dalam praktiknya, efisiensi ini biasanya lahir dari pembenahan proses bisnis, integrasi data, serta digitalisasi layanan lintas instansi.
INSW dan NLE Jadi Kunci Integrasi Logistik
Untuk terus menekan dwelling time, pemerintah mendorong penguatan integrasi layanan melalui Indonesia National Single Window (INSW). Melalui pendekatan “penyampaian data secara tunggal”, proses ekspor dan impor dinilai lebih mudah karena mengurangi pengulangan, repetisi, dan duplikasi data antarlayanan.
Di sisi lain, pemerintah juga menerapkan Ekosistem Logistik Nasional (National Logistics Ecosystem/NLE) yang kini berjalan di puluhan simpul layanan, mencakup pelabuhan dan bandara. NLE diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan ekspor-impor, baik dari sisi waktu maupun biaya, lewat penyelarasan proses dan pertukaran data antarpelaku logistik.
Catatan Dampak: Ketika waktu tunggu turun, biaya logistik cenderung ikut menurun—dan ini berpengaruh pada harga barang serta daya saing perdagangan.
Ke depan, kinerja dwelling time dan customs clearance akan tetap menjadi indikator penting dalam menilai efektivitas reformasi layanan perdagangan. Semakin stabil integrasi data dan proses lintas instansi, semakin besar peluang efisiensi logistik menjadi “standar baru” bagi aktivitas ekspor-impor nasional.















