“Lihat Mandiri dan BRI kencang juga nih, sudah langsung 100% (penyalurannya), dan mereka sudah minta lagi. Nah, kita bilang ya kita evaluasi deh.”
Kemenkeu menyampaikan penempatan dana pemerintah senilai Rp200 triliun di bank-bank Himbara terbukti cepat tersalur menjadi kredit. Contohnya, Bank Mandiri dan BRI telah menyalurkan Rp55 triliun masing-masing atau 100% dari alokasi awal. Karena muncul permintaan tambahan, Kemenkeu memilih menahan langkah lanjutan sambil mengkaji dampaknya secara komprehensif.
Baca juga: Rombak Struktur DJP untuk Era CoreTax – Kemenkeu Tuntaskan Penataan Organisasi
Menurut Febrio, percepatan tersebut erat terkait turunnya cost of fund di perbankan sesudah suntikan dana pemerintah. Sebelum penempatan, sejumlah bank berkinerja kredit baik masih menghadapi biaya dana tinggi. Dengan bunga penempatan hanya 3,8%, bank memperoleh ruang lebih luas untuk mempercepat penyaluran kredit.
“Bunga 3,8% langsung mengalahkan banyak special rate, memberi ruang bagi bank berkinerja kredit bagus untuk ekspansi.”
Hingga 22 Oktober 2025, realisasi penyaluran melalui kredit oleh Himbara mencapai Rp167,6 triliun atau sekitar 84% dari dana yang ditempatkan. Rinciannya sebagai berikut:
- Bank Mandiri & BRI: penyaluran 100%.
- BNI: Rp37,4 triliun (68%).
- BSI: Rp9,9 triliun (99%).
- BTN: Rp10,3 triliun (41%).
Baca juga: Terlewat Satu Masa Pajak? Insentif PPh 21 DTP 2025 Bisa Hilang Begini Risikonya
Meski sinyal awalnya positif termasuk dorongan terhadap pertumbuhan kredit Kemenkeu tetap berhati-hati. Evaluasi akan menilai efektivitas penyaluran ke sektor riil, dampaknya terhadap cost of fund, serta implikasi bagi stabilitas sistem keuangan. Hanya setelah kajian tersebut rampung, keputusan atas permintaan tambahan dana akan dipertimbangkan.















